
Wonogiri-Warga Dusun Pelem Desa Gunturharjo Kecamatan Paranggupito Wonogiri masih mengangsu atau menimba air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terlebih saat musim kemarau seperti saat ini.
Warga mengangsu di sumber air di dusunnya yang bernama Sumber Karmo. Mereka mengangsu air di sumber air itu lalu dibawa pulang dengan berjalan kaki dan digendong.
Pada Rabu (18/10), tampak beberapa ibu-ibu sedang beraktivitas di Sumber Karmo. Ada yang mengisi jeriken dari sumber air hingga mencuci pakaian.
Ibu-ibu itu membawa pulang jerikan dengan jalan kaki dan digendong menggunakan jarik. Namun ada yang memikul dua jeriken dan kemudian ditaruh di sepeda motor bagian belakang.
Warga yang masih mengangsu Sarinah (63), mengatakan Sumber Karmo adalah sumber air pilihan yang mempunyai kualitas yang bagus. Sehingga saat kemarau maupun penghujan warga tetap mengambil air di sana.
“Kalau musim penghujan pakai air hujan. Air ditampung di bak kemudian dimafaatkan. Kalau kemarau membeli air dari truk tangki,” kata dia.
Ia menuturkan, harga air satu truk tangki sebesar Rp 150.000. Pada musim kemarau tahun ini ia sudah membeli tiga kali air dari truk tangki. Dan pastinya ia masih akan membeli lagi karena stok sudah hampir habis.
“Air hujan dan tangki itu untuk mencuci dan mandi. Kalau untuk minum dan masak ya dari sumber ini, karena lebih bersih,” kata Sarinah.
Warga lain, Wijiati mengatakan saat musim kemarau debit air di Sumber Karmo menurun. Biasanya saat masuk mongso kalimo air mati.
“Ini tes-tes. Ini sudah masuk mongso kalimo, insyaallah tidak mati,” kata dia.
Wijiati mengaku saat musim kemarau justru penggunaan air meningkat. Selain untuk kebutuhan keluarga, air juga diperlukan untuk hewan peliharaan. Hewan membutuhkan air yang lebih banyak. Bahkan sehari bisa lima jeriken.
Wijiati dan ibu-ibu lain di Dusun Pelam setiap hari mengangsu air. Jarak sumber air dengan rumah warga bervariasi. Namun tidak ada yang lebih dari satu kilometer.
“Jumlah jerikennya beda-beda. Ada yang dua sampai empat jeriken sehari. Mengambilnya bolak-balik,” ungkapnya.
Wijiati menjelaskan Sumber Karmo sudah menjadi sumber air sejak dulu. Sejak ia kecil, sumber itu sudah ada dan hingga sekarang masih dimanfaatkan.
“Ibu-ibu di sini pekerjaannya ya tani. Dan ada yang membuat gendis jawi,” kata Wijiati.