Ketua Komjak RI Ingatkan Anak Muda Wonogiri Jangan Terjebak Dunia Maya, Bupati Sebut Pemuda Punya Peran Penting

by Abdul Manar

WONOGIRI-KabarWonogiri.com – Dunia maya kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak muda. Beragam kesuksesan, gaya hidup, hingga persoalan sosial begitu mudah ditemui hanya melalui layar ponsel.

Namun, Ketua Komisi Kejaksaan (Komjak) RI Prof Dr Pujiono Suwadi mengingatkan anak muda agar tidak sampai terjebak dalam pesona dunia maya dan melupakan kehidupan nyata.

Pesan tersebut disampaikan Pujiono saat menjadi pembicara dalam Ngobrol Inspiratif Bareng Anak Muda yang digelar Gerakan Solusi Indonesia (GSI) bersama Pemkab Wonogiri, Kejaksaan Negeri Wonogiri dan Bank Jateng Cabang Wonogiri di Pendopo Kabupaten Wonogiri, Jumat (18/9/2026).

Menurut Pujiono, dunia nyata tidak selalu berjalan seperti apa yang ditampilkan di media sosial.

“Dunia nyata itu ya kadang senang, kadang jelek, dan harus kita nikmati,” papar Pujiono.

Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta itu mengatakan, salah satu kegelisahan anak muda saat ini adalah kebingungan menentukan masa depan.

Setelah lulus SMA, misalnya, tidak sedikit anak muda yang masih bingung menentukan pilihan. Persoalan serupa juga dapat muncul setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.

“Banyak anak-anak muda ini setelah SMA lulus bingung. Lulus bingung mau kerja apa, mau seperti apa, mau menjadi apa, segala macam,” kata Pujiono.

Di sisi lain, anak muda saat ini hidup dalam dua ruang, yakni kehidupan nyata dan dunia maya.

“Kegelisahan yang kedua adalah banyak anak muda sekarang yang hidupnya ini sebenarnya kita dua alam tetapi terjebak pada alam dunia maya,” ujarnya.

Pujiono menjelaskan, media sosial dapat menghadirkan gambaran kehidupan yang membuat seseorang ingin memiliki kesuksesan serupa.

Anak muda bisa melihat orang lain sukses dan kemudian ingin mengikuti jejaknya. Di sisi lain, mereka juga dapat dengan mudah menemukan berbagai persoalan pemerintah maupun masyarakat dan ikut memberikan kritik.

Namun, menurut Pujiono, keinginan dan kritik tersebut harus dibarengi tindakan nyata.

“Jadi pengin sukses, habis itu ngapain, bingung,” kata dia.

Ia mendorong anak muda tidak hanya menjadi orang yang mengkritik keadaan, tetapi juga ikut menjadi bagian dari solusi.

“Kalau kita kemudian mengkritik terus kemudian kita berupaya ke depan kita harus jadi bagian dari solusi, maka kemudian setidaknya kritik kita itu tidak kemudian arahnya menghujat,” jelasnya.

Pujiono juga mengingatkan anak muda agar tidak mudah menganggap jumlah pengikut di media sosial sebagai ukuran kebenaran.

Ia mengangkat fenomena yang disebutnya sebagai the death of expertise atau kematian keahlian. Menurutnya, orang yang memiliki banyak pengikut belum tentu memiliki keahlian sesuai dengan informasi yang disampaikan.

“Saya itu kuliah di Hukum, sampai S1, S2, S3 dan doktor. Tetapi ketika saya ngomong soal hukum di media sosial, bisa jadi Anda lebih percaya pada orang yang lulusan teknik yang follower-nya banyak dibanding saya yang follower-nya tidak begitu banyak,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta anak muda lebih kritis dalam menerima informasi yang beredar di media sosial.

Dalam kesempatan tersebut, Pujiono juga mengingatkan generasi muda mengenai berbagai persoalan yang dapat mengganggu masa depan.

Di antaranya judi online, narkotika, perkelahian kelompok, hingga penggunaan media sosial yang tidak bijak. Ia meminta anak muda tidak mudah terjebak pada kesenangan sesaat yang justru dapat membawa persoalan lebih panjang.

Khusus penggunaan media sosial, Pujiono mengingatkan bahwa unggahan maupun komentar seseorang dapat menimbulkan persoalan hukum.

“Makanya kita harus juga bijak bermedia sosial. Sebelum ngetik-ngetik, sebelum ngeshare itu dipikir dulu,” pesannya.

Ia juga mendorong anak muda berani memiliki mimpi sekaligus siap menjalani proses untuk mewujudkannya.

Pendidikan, kata Pujiono, menjadi salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kualitas diri dan membantu mengangkat derajat keluarga.

Kejari Wonogiri: Kenali Hukum, Jauhi Hukuman

Kepala Kejaksaan Negeri Wonogiri Hery Somantry turut mengingatkan pentingnya kesadaran hukum di kalangan generasi muda.Ia mengatakan Kejari Wonogiri telah melakukan berbagai kegiatan sosialisasi hukum melalui program Jaksa Masuk Sekolah.

Program tersebut dilakukan sebagai salah satu langkah pencegahan agar remaja tidak terlibat tindak pidana.Hery menyebut sebagian besar perkara yang telah ditangani melalui penuntutan di persidangan berkaitan dengan perlindungan anak.

“Hampir 70 persen tindak pidana yang ada di Wonogiri ini yang sudah kita lakukan penuntutan di persidangan ya, itu hampir rata-rata perkara perlindungan anak,” ungkapnya.

Menurut Hery, perkara tersebut di antaranya berkaitan dengan pencabulan, termasuk perkara yang melibatkan pelaku masih berusia anak.

Karena itu, pencegahan tindak pidana tidak dapat hanya menjadi tugas kejaksaan.

“Kami beberapa program ke sekolah-sekolah telah melakukan program Jaksa Masuk Sekolah dengan harapan kami memberikan pencegahan terhadap tindak pidana terutama-terutama yang dilakukan oleh para remaja, pada anak-anak,” ujarnya.

Ia menegaskan pemerintah, tokoh agama, serta berbagai elemen masyarakat memiliki peran bersama dalam mencegah generasi muda terlibat tindak pidana.“Ini bukan hanya tugas kami di kejaksaan, tapi ini tugas kita semua. Kenali hukum, jauhi hukuman,” tutur Hery.

Bupati Wonogiri: Pemuda Punya Peran Penting Bangun Daerah

Sementara itu, Bupati Wonogiri Setyo Sukarno mengatakan generasi muda memiliki peran penting dalam mendorong perubahan dan pembangunan daerah.

Menurutnya, energi besar yang dimiliki anak muda perlu diarahkan agar menjadi kekuatan konstruktif yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Peran pemuda sangat sentral dan energi yang luar biasa dalam membuat perubahan, tentunya di sini membutuhkan arah yang jelas sehingga memiliki daya konstruktif yang memberikan manfaat pada masyarakat luas,” paparnya.

Setyo mengaitkan peran tersebut dengan cita-cita Indonesia Emas 2045. Menurutnya, masa depan Indonesia, termasuk Kabupaten Wonogiri, akan bertumpu pada generasi muda yang memiliki kemampuan sekaligus kemauan untuk berkontribusi.

Namun, ia juga mengingatkan adanya tantangan yang perlu dihadapi anak muda, salah satunya judi online. Setyo menyebut berdasarkan data yang disampaikannya dalam kegiatan tersebut, Wonogiri masuk 10 besar dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah terkait persoalan judi online.

“Wonogiri ini darurat judi online. Tiga puluh lima kabupaten/kota di Jawa Tengah, kita masuk ranking 10,” ujar Bupati.

Ia juga menyebut angka perputaran dana mencapai Rp128 miliar dengan jumlah pengguna akun sekitar 46.600. Angka tersebut merupakan data yang disampaikan Bupati dalam kegiatan dan masih perlu ditelusuri lebih lanjut terkait periode, sumber, serta metodologi pengukurannya.

Setyo meminta generasi muda tidak menjadikan judi sebagai jalan untuk mendapatkan kesejahteraan.

“Yakinlah judi tidak mungkin Anda menjadi kaya,” katanya.

Pemkab Wonogiri Siapkan Beasiswa Rp7,5 Miliar

Di sisi lain, Pemkab Wonogiri juga terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program beasiswa bagi mahasiswa berprestasi.

Setyo mengatakan program beasiswa tersebut telah dilaksanakan sejak 2016 hingga 2025 dengan total penyaluran mencapai Rp70,09 miliar kepada 5.604 mahasiswa.

Pada 2026, Pemkab Wonogiri menganggarkan Rp7,5 miliar. Bantuan diberikan kepada 605 mahasiswa dengan masing-masing menerima Rp12 juta.

Bupati berharap kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan anak muda untuk mengembangkan potensi, berkreasi, serta memberikan kontribusi bagi kemajuan Wonogiri.“

Pemuda harus membangun kesejahteraan bagi masyarakat yang dilandasi cita-cita mulia untuk kemajuan bersama serta kemajuan bangsa dan negara,” jelasnya.

Kegiatan Ngobrol Inspiratif Bareng Anak Muda tersebut diikuti sekitar 130 peserta yang terdiri dari OSIS dan Pramuka, mahasiswa, organisasi kepemudaan, serta karang taruna.Selain Pujiono, Hery Somantry dan Setyo Sukarno, kegiatan itu juga menghadirkan Co Founder GSI Anas Syahirul, Local Hero Wonogiri Yosep Bagus, Pegiat Literasi Digital Niken Satyawati, serta Mahasiswa Berprestasi Wonogiri Ajeng Adela Selandani.

Related Posts

Leave a Comment