WONOGIRI–KabarWonogiri.com – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 di Kabupaten Wonogiri diwarnai catatan merah.
Di tengah kampanye perlindungan anak, sebanyak 26 anak di Wonogiri tercatat menjadi korban kekerasan sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Kasus yang dialami para korban beragam. Mulai dari kekerasan fisik, psikis, verbal hingga kekerasan seksual.
Data tersebut disampaikan Kepala Dinas Sosial dan Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPKB P3A) Wonogiri, Anton Tiyas Harjanto, dalam peringatan HAN ke-42 di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Selasa (11/8/2026).
“Jenis kekerasan yang dialami anak cukup beragam. Mulai dari kekerasan fisik, psikis dan verbal, hingga mohon maaf kekerasan seksual,” ujar Anton.
Tak hanya kekerasan terhadap anak, sejumlah persoalan lain juga masuk dalam penanganan. Di antaranya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), penelantaran anak, tindak pidana perdagangan orang (TPPO), hingga persoalan adopsi dan hak asuh.
Pencegahan Dimulai dari Lingkungan AnakAnton mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemkab Wonogiri.
Menurutnya, perlindungan anak tidak cukup hanya dilakukan setelah kekerasan terjadi. Upaya pencegahan harus dimulai dari lingkungan terdekat anak.
Sosialisasi pencegahan kekerasan terus dilakukan dengan melibatkan pemerintah kecamatan, desa dan kelurahan, sekolah, Dinas Pendidikan hingga Kementerian Agama.
“Sosialisasi pencegahan kekerasan terus dilakukan melalui kerja sama dengan pemerintah kecamatan, desa/kelurahan, sekolah, Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama,” katanya.
Sementara bagi anak yang menjadi korban, UPTD PPA Wonogiri menyediakan sejumlah layanan.
Mulai dari menerima pengaduan, pendampingan psikologis, bantuan hukum, pendampingan selama proses hukum hingga pemulihan korban.
Namun, Pemkab Wonogiri ingin perlindungan anak tidak berhenti pada penanganan setelah kasus terjadi.
Anak-anak juga didorong berani bersuara ketika mengalami kekerasan maupun mengetahui adanya persoalan yang dapat mengancam keselamatan anak lainnya.
“Harapan kita anak Wonogiri juga berani bersuara. Karena itu tema lomba video yang kita gelar ‘Anak Wonogiri Bersuara’,” ungkap Anton.
