Jamasan Pusaka Mangkunegara I Digelar di Pendapa Wonogiri, Delapan Peninggalan Raden Mas Said Dibersihkan

by Abdul Manar

WONOGIRI–KabarWonogiri.com – Pemerintah Kabupaten Wonogiri kembali menggelar tradisi Jamasan Pusaka peninggalan Raden Mas Said atau Mangkunegara I pada Minggu (5/7/2026).

Sebanyak delapan pusaka bersejarah dibersihkan dalam prosesi yang berlangsung di Pendapa Kabupaten Wonogiri.

Pusaka yang dijamas meliputi keris Kiai Karawelang, tombak Kiai Totog, tombak Kiai Jaladara, tombak Kiai Limpung, keris Kiai Semar Tinandu, keris Kiai Bancak, tombak Kiai Alap-alap, serta gong Kiai Mendung Ekadaya Wilaga.

Selama ini, pusaka-pusaka tersebut disimpan di sejumlah lokasi bersejarah di Kabupaten Wonogiri. Keris Kiai Karawelang, tombak Kiai Totog, dan tombak Kiai Jaladara berada di Monumen Tugu Pusaka Selogiri.

Sementara tombak Kiai Limpung dan keris Kiai Semar Tinandu disimpan di Rumah Tiban Bubakan, Girimarto.

Adapun keris Kiai Bancak dan tombak Kiai Alap-alap yang sebelumnya berada di Petilasan Kaliwerak, Giritirto, kini disimpan di Monumen Matah Ati, Gunung Wijil, Selogiri.

Sedangkan gong Kiai Mendung Ekadaya Wilaga berada di Kantor Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disporapar) Wonogiri.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wonogiri, Sriyanto, mengatakan pelaksanaan jamasan tahun ini berlangsung lebih sederhana dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya dipusatkan di kawasan Waduk Gajah Mungkur, kini prosesi digelar di Pendapa Kabupaten Wonogiri.

Menurutnya, perubahan lokasi dilakukan sebagai bentuk penyesuaian anggaran sekaligus mengikuti arahan Bupati Wonogiri.

“Biasanya di Waduk Gajah Mungkur secara besar-besaran. Tahun ini dilaksanakan di pendapa karena efisiensi anggaran dan merupakan dhawuh Bupati,” ujarnya.

Meski berlangsung sederhana, Sriyanto menegaskan prosesi jamasan tetap mempertahankan nilai dan makna tradisi yang rutin dilaksanakan setiap bulan Sura atau Muharam.

Ia menjelaskan, sehari sebelum upacara berlangsung, seluruh pusaka terlebih dahulu diambil dari tempat penyimpanannya untuk kemudian dibawa ke Pendapa Kabupaten Wonogiri. Selanjutnya, pusaka dibersihkan menggunakan air jeruk agar material besinya tetap terawat dan tidak mudah berkarat.

“Tujuan utamanya adalah menjaga, merawat, dan melestarikan peninggalan Raden Mas Said. Karena berbahan besi, pusaka dicuci menggunakan air jeruk agar tidak mudah berkarat,” jelasnya.

Selain sebagai bentuk pelestarian benda cagar budaya, tradisi Jamasan Pusaka juga menjadi penghormatan terhadap perjuangan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa dalam melawan penjajahan Belanda.

Sriyanto menambahkan, sejumlah lokasi penyimpanan pusaka di Wonogiri memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perjuangan Raden Mas Said yang menjadikan wilayah tersebut sebagai salah satu basis perlawanannya terhadap kolonial Belanda.

Related Posts

Leave a Comment