WONOGIRI—KabarWonogiri.com – Musim kemarau panjang tidak membuat petani di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, berhenti mengolah lahan pertanian. Saat sebagian tanaman sulit tumbuh akibat minimnya pasokan air, sejumlah petani justru memanfaatkan kondisi tersebut untuk membudidayakan tembakau.
Salah satunya dilakukan Joko Rusdiyanto, petani asal Desa Jendi, Kecamatan Selogiri. Dalam dua tahun terakhir, ia memilih menanam tembakau di lahan sawah tadah hujan miliknya sebagai alternatif agar tetap mendapatkan hasil dari lahan pertanian saat musim kering.
Joko mengatakan, saat musim penghujan, lahan tersebut biasanya digunakan untuk menanam tanaman hortikultura seperti melon, semangka, dan cabai. Namun ketika kemarau tiba, keterbatasan air membuat tanaman tersebut sulit dikembangkan.
“Kalau musim hujan biasanya saya tanam melon, semangka, dan cabai. Tapi saat kemarau air terbatas, sehingga tembakau menjadi pilihan agar lahan tetap produktif dan menghasilkan,” kata Joko.
Di lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi, Joko menanam sekitar 4.000 batang tembakau. Dari lahan tersebut, ia memperkirakan mampu menghasilkan sedikitnya empat kuintal tembakau kering saat panen.
Dengan harga jual yang bergantung pada kualitas, yakni berkisar Rp30.000 hingga Rp60.000 per kilogram, Joko memperkirakan pendapatannya bisa mencapai sekitar Rp12 juta.
Sementara biaya produksi selama proses budidaya hingga panen yang berlangsung sekitar tiga bulan mencapai kurang lebih Rp5 juta.
“Kalau dibandingkan lahan dibiarkan kosong saat kemarau, tembakau jauh lebih menguntungkan,” ujarnya.
Menurut Joko, kondisi kemarau yang lebih kering justru memberikan keuntungan bagi tanaman tembakau. Tanaman ini dinilai lebih tahan terhadap kondisi minim air dibandingkan komoditas pertanian lainnya.
Selain faktor cuaca, pemasaran hasil panen juga tidak menjadi kendala. Tembakau kering miliknya sudah memiliki pembeli tetap dari perusahaan mitra di Kabupaten Klaten.
“Ada yang mengambil, mitra dari Klaten. Saya menjual tembakau yang sudah kering dan terpotong,” jelasnya.
Kepala Bidang Produksi dan Penyuluhan Dinas Pertanian (Dispertan) Wonogiri, Shidiq Purwanto, menyebut budidaya tembakau di Kecamatan Selogiri mulai berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Saat ini, luas lahan tembakau di wilayah tersebut diperkirakan telah mencapai sedikitnya lima hektare.
“Selogiri sangat memungkinkan untuk ditanami tembakau karena banyak lahan sawah tadah hujan. Namun perawatannya memang harus lebih intensif dibanding tanaman padi,” ujar Shidiq.
Meski mulai tumbuh di Selogiri, sentra produksi tembakau Wonogiri masih didominasi wilayah bagian selatan, seperti Kecamatan Eromoko, Wuryantoro, dan Giriwoyo.Selain menjadi sumber penghasilan bagi petani, komoditas tembakau juga turut memberikan kontribusi bagi daerah melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
