Kemarau, Makam Kuno di Dasar Waduk Gajah Mungkur Wonogiri Mulai Bermunculan

by Abdul Manar

WONOGIRI-KabarWonogiri.com — Surutnya Waduk Gajah Mungkur (WGM) di Wonogiri kembali menyingkap jejak kehidupan masa lalu. Sejumlah makam kuno yang berada di dasar waduk mulai bermunculan seiring menyusutnya permukaan air pada musim kemarau.

Pemandangan tersebut terlihat di wilayah Kelurahan/Kecamatan Wuryantoro. Makam-makam yang sebelumnya terendam air waduk kini mulai menampakkan diri.

Sebagian makam masih terlihat utuh. Namun, tidak sedikit pula yang kondisinya telah terkikis setelah puluhan tahun berada di bawah genangan air WGM.

Fenomena ini bukan hal baru bagi masyarakat sekitar. Setiap musim kemarau, surutnya waduk kerap membuka kembali kawasan yang dahulu menjadi permukiman warga sebelum pembangunan bendungan.

Camat Wuryantoro Soemardjono Fadjari mengatakan, makam-makam kuno tersebut biasanya mulai terlihat ketika permukaan air waduk menyusut. Namun, tahun ini kemunculannya belum maksimal karena volume air masih cukup tinggi.

“Setiap kemarau biasanya makam-makam itu mulai terlihat. Tapi baru sebagian, karena masih ada air,” ujar Soemardjono.

Menurut Soemardjono, jumlah makam kuno yang terlihat akan bertambah seiring semakin surutnya permukaan Waduk Gajah Mungkur.

Akan tetapi, curah hujan pada musim penghujan sebelumnya membuat debit air waduk cukup tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan proses penyusutan permukaan air berlangsung lebih lambat dibandingkan waktu yang biasanya.

“Penghujan kemarin kan membuat debit waduk cukup banyak. Jadi saat ini masih ada airnya, belum semuanya,” katanya.

Dia menjelaskan, pada tahun-tahun sebelumnya makam-makam kuno biasanya mulai terlihat sekitar Agustus. Sementara tahun ini, kemunculannya berlangsung lebih lambat.

“Biasanya Agustus sudah mulai kelihatan. Tahun ini surutnya agak lambat, sehingga belum semuanya muncul,” pungkasnya.

Makam-makam tersebut merupakan peninggalan masa sebelum Waduk Gajah Mungkur dibangun. Kawasan yang kini menjadi dasar waduk dahulu merupakan wilayah yang dihuni masyarakat.

Saat pembangunan waduk dilakukan, warga yang tinggal di kawasan terdampak mengikuti program bedol desa atau transmigrasi. Permukiman dan lahan yang sebelumnya mereka tempati kemudian masuk ke kawasan genangan waduk.

Seiring berjalannya waktu, makam-makam yang ditinggalkan ikut terendam air selama puluhan tahun. Ketika permukaan waduk menyusut, sebagian makam kembali terlihat, memperlihatkan jejak kehidupan masyarakat sebelum kawasan tersebut berubah menjadi waduk.

Kemunculan makam kuno ini menjadi salah satu fenomena yang kerap menyertai surutnya Waduk Gajah Mungkur. Selain memperlihatkan perubahan kondisi waduk, pemandangan tersebut juga mengingatkan masyarakat pada sejarah permukiman yang kini berada di bawah genangan air.

Meski demikian, belum seluruh makam terlihat tahun ini. Seberapa banyak makam yang akan kembali muncul masih bergantung pada penurunan permukaan air Waduk Gajah Mungkur dalam beberapa waktu ke depan.

Related Posts

Leave a Comment