Murah dan Gurih, Rambak Wonogiri Jadi Buruan Oleh-oleh hingga Jakarta

by Abdul Manar

WONOGIRI-KabarWonogiri.com – Rambak selama ini dikenal sebagai camilan gurih sekaligus pelengkap lauk makan. Namun, di Wonogiri, makanan berbahan dasar tepung ini juga menjadi salah satu buah tangan yang banyak diburu, terutama saat Lebaran.

Harganya relatif terjangkau dengan isi yang melimpah. Tak heran jika rambak kerap menjadi pilihan masyarakat untuk dibawa ke perantauan maupun dibagikan kepada keluarga.

Peluang tersebut dimanfaatkan Dwi Prasetyo, perajin rambak asal Dusun Kedungsono RT 04 RW 06, Desa Bulusulur, Kecamatan Wonogiri. Melalui usaha Rambak Anisa, dia mampu memproduksi puluhan kilogram rambak setiap hari untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Menariknya, usaha yang kini berkembang pesat itu bukan kali pertama digeluti Dwi. Dia mengawali bisnis rambak sekitar 2004 hingga 2011 dengan membeli rambak mentah, kemudian menggoreng dan menjualnya.

Setelah sempat vakum karena menjabat sebagai kepala desa, Dwi kembali menekuni usaha tersebut pada November 2024. Kali ini, dia memutuskan memproduksi rambak sendiri.

“Saat itu produksi sendiri. Ternyata peminatnya banyak,” ujar Dwi.

Dari awalnya hanya memproduksi sekitar 5 kilogram (kg) rambak, kini kapasitas produksinya meningkat menjadi rata-rata 80 kg per hari.

Bahkan, saat permintaan melonjak menjelang Lebaran, produksinya bisa menembus lebih dari 150 kg dalam sehari.

Ia mengatakan, lonjakan pesanan biasanya terjadi menjelang Idul Fitri hingga beberapa hari setelah Lebaran. Pada periode tersebut, banyak pelanggan memesan rambak untuk dijadikan oleh-oleh saat kembali ke perantauan.

Tak sedikit pula pembeli yang datang langsung ke rumahnya untuk mendapatkan rambak dalam jumlah besar.

“Jelang Idul Fitri sampai H+ itu pesanan banyak. Banyak juga yang datang pesan ke rumah. Mau dibawa untuk oleh-oleh di perantauan,” paparnya.

Jangkauan pemasaran Rambak Anisa kini tidak hanya terbatas di Kabupaten Wonogiri. Produk tersebut dikirim ke berbagai kecamatan di Wonogiri, Sukoharjo, Karanganyar, hingga Jakarta.

“Peminat rambak ternyata banyak sekali,” bebernya.

Menurut Dwi, rambak memiliki pasar tersendiri karena masyarakat sudah terbiasa menjadikannya sebagai camilan maupun pelengkap lauk. Selain mudah dinikmati, rambak juga cocok dijadikan buah tangan karena harganya relatif terjangkau.

Di balik rasanya yang gurih, proses pembuatan rambak membutuhkan beberapa tahapan dan waktu sekitar tiga hari.

Bahan baku yang digunakan meliputi tepung terigu, tepung tapioka, bawang putih, garam, serta penyedap rasa. Seluruh bahan tersebut dicampur menjadi adonan sebelum melalui proses pengolahan berikutnya.

Adonan kemudian dilangseng atau dikukus, lalu dijemur selama dua hari. Setelah cukup kering, bahan rambak dirajang dan dijemur kembali sebelum dikemas untuk dijual dalam kondisi mentah.

“Lalu dilangseng. Terus dijemur dua hari lalu dirajang. Jemur lagi dan packing untuk yang mentah. Prosesnya bisa tiga hari. Rambaknya rasanya gurih,” jelas Dwi.

Dalam proses produksi, Dwi juga melakukan penyortiran untuk menjaga kualitas produk. Rambak dengan ukuran yang terlalu kecil atau hasil sortir lainnya dipisahkan dan dijual dengan harga lebih murah.

Adapun rambak mentah dijual dengan harga Rp 18.000 per kilogram. Sementara rambak yang sudah digoreng dan siap dikonsumsi dibanderol Rp 28.000 per kilogram.

Dengan harga tersebut, rambak menjadi pilihan oleh-oleh yang relatif ramah di kantong. Konsumen bisa membelinya untuk stok camilan di rumah, pelengkap makanan, maupun buah tangan bagi keluarga di kampung halaman.

Bagi Dwi, tingginya permintaan menjadi bukti bahwa rambak tetap memiliki tempat di tengah beragam pilihan makanan ringan. Selama masyarakat masih membutuhkan camilan gurih dan pelengkap lauk, peluang usaha rambak dinilai tetap terbuka.

Related Posts

Leave a Comment